Friday, 9 October 2015

PEMBUNUHAN INTIM



PEMBUNUHAN INTIM
Patria Novary, SH, MSi

            Akhir-akhir ini, pembunuhan yang dilakukan seseorang terhadap pasangan intimnya marak di berbagai media. Beberapa hari yang lalu, 26 September 2015 di Surabaya, seorang isteri (V) dibunuh suaminya (S) yang pengangguran di depan anak kandungnya sendiri karena cekcok masalah ekonomi. Sekitar dua bulan sebelumnya, Juli 2015 di Kalimantan Barat, suami (L) membunuh isterinya (SC) yang berprofesi sebagai guru SD, karena tersinggung dibilang penganggur.
            Penyebab sepele kerap melatar-belakangi pembunuhan tersebut. Di Magelang misalnya, suami (M) membunuh isteri (SH) hanya karena sang isteri menolak berhubungan intim. Pada kasus lainnya tidak jarang ditemui peristiwa pembunuhan terhadap isteri karena suami cemburu melihat isterinya menerima telepon dari lelaki lain.
Kendati kebanyakan korban adalah perempuan, tidak menutup kemungkinan laki-laki juga dapat menjadi korban. Misalnya di Padang sidempuan awal September 2015 lalu, ketika isteri (NS) menyuruh selingkuhannya untuk membunuh suaminya, (AH). Kejadian serupa dengan korban laki-laki juga menimpa wilayah Madiun Agustus 2015 silam, seorang isteri (SW) membunuh suaminya sendiri (S).
            Fenomena diatas cukup memprihatinkan, mengingat mereka yang telah terikat dalam mahligai perkawinan dan ikrar suci pernikahan, seharusnya saling menjaga dan melindungi satu sama lainnya. Bukan serta merta menghilangkan nyawa salah satunya.
Pembunuhan Intim dan Insting Agresif
Dalam literatur kriminologi pembunuhan terhadap pasangannya tersebut diistilahkan intimate homicide atau pembunuhan intim, yang mengandung arti pembunuhan yang dilakukan terhadap pasangan intimnya. Pembunuhan ini merupakan sub-jenis pembunuhan domestik. Pembunuhan tersebut menurut Turvey (2012) terjadi apabila pasangan atau mantan pasangannya membunuh yang lainnya. Ia juga menambahkan, dalam beberapa kasus, pelaku dan korban tidak harus tinggal bersama dalam satu atap, tetapi mereka setidaknya pernah terlibat hubungan yang sangat mendalam, dan kebanyakan motif pembunuhan tersebut adalah kemarahan/ dendam, mencari keuntungan, atau kombinasi dari keduanya.
            Sementara itu, dalam kaitannya dengan pelaku kejahatan diatas, Nitibaskara (2001) pernah menuturkan perspektif classical yang menjelaskan bahwa dalam masyarakat hingga kini masih terdapat sejumlah orang yang tidak memiliki rasa takut terhadap sanksi apapun, baik sanksi sosial maupun hukum. Bagi mereka berlaku moto “bunuh dulu, urusan belakang”.
             Kenyataan demikian tentu tidak dapat dilepaskan dari insting agresif yang dimiliki setiap orang. Nitibaskara (2001) kemudian melanjutkan membagi tingkatan laku agresif menjadi dua yaitu tingkatan laku agresif yang mengandung kebencian (hostile) dan tingkatan laku agresif yang memberikan kepuasan (reinforcement) tertentu. Tingkah laku hostile ditandai oleh kepuasan yang diperoleh karena lawan menderita, luka, atau sakit. Tingkah laku yang memberikan kepuasan (reinforcement) ditandai oleh kepuasan yang diperoleh karena lawan gagal mencapai objek yang diinginkan.
Faktor & Motif Pembunuhan Intim
            Tidak dapat dipungkiri, kejahatan pembunuhan terhadap pasangan yang diuraikan dimuka merupakan hasil dari naluri agresif hostile dan reinforcement. Tetapi, terdapat beberapa hal yang mengakibatkan munculnya kedua perilaku agresif itu sendiri. Faktor-faktor penyebab tersebut dapat berupa kecemburuan berlebihan, emosi, rasa takut kehilangan, takut ditinggalkan, posesif atau rasa kepemilikan yang ekstrim, ada upaya pasangan untuk membebaskan diri darinya, tersinggung, dsb.
            Patut diketahui, kecemburuan dan takut kehilangan juga merupakan salah satu hal utama penyebab terjadinya kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan laki-laki pada pasangannya. Burke (2007) pernah menyatakan, laki-laki yang cemburu dan mengendalikan, atau menyakiti dalam bentuk verbal, secara statistik memiliki lebih besar kemungkinan melakukan penganiayaan, pemerkosaan, atau membuntuti pasangannya. Penganiayaan itu sendiri tidak jarang berujung pada kematian.
Di samping itu, banyak pelaku mengalami rendah diri dan memiliki kontrol diri yang minim, serta secara fisik berulangkali melakukan cara yang salah saat menghadapi upaya pasangan yang ingin membebaskan diri darinya. Ketika ia mendapati kenyataan akan ditinggalkan tersebut, tindakan yang diambil terkadang teramat ekstrim dengan jalan menghilangkan nyawa yang bersangkutan.
            Berdasarkan uraian singkat diatas, penyebab pembunuhan intim berbeda satu sama lainnya. Keragaman tersebut juga dapat dilihat pada beberapa contoh kasus yang telah diuraikan di muka. Satu persatu ilustrasi menunjukkan pembunuhan terjadi karena: emosi akibat kemauannya ditolak, tersinggung oleh perkataan pasangannya, cemburu, dan seterusnya. Kesemuanya itu kemudian dilampiaskan dalam bentuk dua jenis insting agresif mematikan.
            Sementara itu, Johnson (2000) memberikan beberapa keadaan pelaku yang ditengarai dapat meningkatkan resiko terjadinya pembunuhan tersebut, antara lain seperti: pernah melakukan kekerasan terhadap hewan peliharaan, melakukan kekerasan saat pasangannya hamil, memiliki rasa cemburu yang ekstrim, memiliki riwayat kejahatan/ pernah terlibat masalah hukum, memiliki penyakit mental, pernah mengancam membunuh, memiliki masalah dengan alkohol dan narkoba, dsb.
            Dengan demikian, untuk meminimalisir terjadinya pembunuhan tersebut, setiap pihak juga wajib memperhatikan ada tidaknya beberapa keadaan diatas pada diri pasangannya, yaitu: situasi dan kondisi yang ditengarai dapat menimbulkan insiden maut tersebut di masa depan.

Thursday, 1 October 2015

GATHERING KI KENTAKI & KI PENYAKIT


Pendekar kentut sakti yang biasa disingkat sebagai Ki Kentaki *lihat cerita pendekar kampret betina sebelumnya di blog ini), membuat janji melalui gojek, email, germo, calo, makelar dsb dengan pendekar nyamuk sakti yang disingkat Ki Penyakit (*Ki Pendekar Nyamuk Kecil dan Item).
Pertemuan mereka diselenggarakan oleh EO yang sangat tidak kompeten dan tidka terkenal, serta tidak jelas, di kawasan Gunung Antang, deket rel kereta, kawasan pelacuran yang tidak jauh dengan lapangan urip dan kayumanis, di wilayah sekitar jatinegara Jakarta Timur.
Sembari memakan sisa tongseng-nya, pandangan mata Ki Kentaki menyapu seluruh wilayah gunung antang tersebut. Mulai dari, anak-anak yg pada e’e, pipis, mbak-mbak yang pada mandi di pemandian umum, hingga belahan dada janda pemilik warung yang biasa diutangin Ki Kentaki.
Beberapa saat kemudian, terlihat seluruh penduduk kawasan Gunung Antang tersebut berlarian kesana kemari, hilir mudik, kalang kabut, demi untuk menyalakan dan membakar obat nyamuk ketengan, karena mereka menyadari bahwa Ki Penyakit (*Pendekar Nyamul Kecil Item) akan segera melakukan inspeksi yang sangat mendadak di kawasan pelacuran tersebut.
Lima menit kemudian, Ki Kentaki menyadari bahwa hawa dan aura daerah tersebut menjadi berbeda, angin kencang mendera, turun hujan salju (*PLIS DEH HUJAN SALJU Di GUNUNG ANTANG?? ), kadang-2 hujan uang, badai, petir dan segala hal yang berbau horror konyol lainnya. Itulah pertanda Ki Penyakit akan segera tiba, setelah seluruh penduduk kawasan pelacuran tersebut menutup pintu dan berdiam diri di rumah masing-masing, Ki Penyakit muncul nongkrong diatas tiang dekat jembatan sembari memegang poster bintang pelem porno miyabi.
Beliau lantas tertawa-tawa ngakak sehingga membuat badan kurus cekingnya yg mirip bintang pelem Doyok itu, bergoyang-goyang dan akhirnya karena kelalaian beliau, tiba-tiba ada kereta jawa-jakarta menyambar kakinya, sehingga yang bersangkutan terpelanting ke kamar mandi umum yang kebetulan berisi mertua perempuannya.
Menyikapi hal demikian, Ki Kentaki lantas kentut dan tertawa-tawa sembari melirik belahan dada wanita disana, menyimak, kejadian aneh bin ajaib, lucu bin kocak tersebut.
“Eh kampret, knapa ketawa.” Ujar Ki Penyakit sembari membersihkan sisa2 sabun dan shampoo mertuanya yang tadi mandi.
“Eh, nyuk, gmn gw gak ketawa, lo konyol banget jatohnya kayak pelem2,ketabrak kereta dsb, wkwkwkkwkwkwk,” sahut Ki Kentaki.
“Hm, sudah, qt kembali ke masalah serius.” Ujar Ki Penyakit berwibawa sembari benerin jenggotnya yang sepanjang kaki.
“Ok bro mo bahas apah?,” jawab Ki Kentaki sembari menyalakan rokoknya yang tadi dibeli ngeteng dan ngutang.
“Begini bro,” Ki Penyakit berdehem sejenak dan mengeluarkan rokok lintingannya dari kantongnya yang penuh dengan permen dan tisu bekas masturbasi.
“Mang kenape bro.” potong Ki Kentaki sambil siap-2 kentut.
 “Gini cuy, lo tw mitera????.” Sambung Ki Penyakit cuek sambil garuk-2 borok di jempolnya.
“Iya, mang kenapa?,” jawab Ki Kentaki santun dan cuek sambil buka androidnya liat poster telanjang bintang pelem porno idolanya.
“Gw mo melamar dia bro, mow gw jadiin isteri,” ujar Ki Penyakit kalem, sembari garuk-2 alat vitalnya karena keseringan “maen” di perumpung.
Sontak Ki Kentaki kaget bukan kepalang, menggeleng-geleng selalu kian kemari, kayak lagu uler naga panjangnya bukan kepalang.
“Lo serius?.” Tanya Ki Kentaki sambil elap ilernya dengan amplas.
“Yo’I bro,” jawab Ki Penyakit.
“Ywdh, gw sms sama WA org tuanya dulu ye, apakah die mau jadiin elo menantu,” pungkas Ki Kentaki sembari jongkok megang HP bajakannya yang dibeli di pasar gelap.
Sementara itu, Ki Penyakit, hanya tertawa-tawa sembari matanya melirik barisan janda Gunung Antang keluar mask kamar mandi umum yang berada di sampingnya.
*continue :p

DANGEROUS PERSONALITIES PART 3

The Paranoid Personality Dogmatis, Argumentatif, Rentan untuk Membenci. Manusia normal dapat melakukan penyesuaian dan menerima ide...