Tanpa disadari, sidang kasus pembunuhan Mirna dengan Jessica sebagai terdakwa pada Senin 26 September 2016 kemarin memasuki sidang ke-25. Berbagai ahli dengan serangkaian keilmuannya telah diturunkan pihak Penuntut Umum dan Penasehat Hukum untuk menguak tabir kasus yang menyita perhatian tersebut.
Seperti diketahui bersama, sidang yang kerap disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi swasta terkemuka tersebut berawal dari kejadian 6 Januari 2016 silam. Ketika Jessica, Hani, dan Mirna, bertemu di kafe Olivier untuk sekedar hang out dan meminum kopi bersama, namun berujung pada tewasnya Mirna setelah mengkonsumsi kopi Vietnam.
Beberapa kecurigaan mau tidak mau mengarah ke Jessica, yang berdasarkan cctv 7 diketahui telah berada kurang lebih 39 menit 51 detik bersama semua minuman pesanan untuk kedua sahabatnya sembari meletakkan beberapa penghalang berupa benda yang belakangan diketahui sebagai paper bag di dekat tempat Mirna duduk kelak. Tetapi, pemecahan kasus ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mengingat minimnya bukti dan saksi kasus diatas, ahli dengan pengetahuan ilmu membaca wajah dan bahasa tubuh atau gestur seseorang yang diduga melakukan tindak pidana cukup menarik perhatian dalam sidang 1 September 2016 silam.
Gestur Tanpa “Gestur”
Pada sidang hari Kamis 1 September 2016 yang tertunda kurang lebih 1 jam tersebut, pakar dan Guru Besar kriminologi UI sekaligus Penasehat Ahli Kapolri Prof. Dr. Tb. Ronny Nitibaskara, yang kemampuan ilmu membaca wajah dan bahasa tubuh atau gesturnya pernah dipakai sebagai salah satu rujukan dalam kasus pembunuhan Engeline di Bali silam, telah membuat Jessica meneteskan airmata. Hal ini tidak pernah terjadi dalam sidang-sidang sebelumnya. Kenyataan demikian bagi para pihak yang berkecimpung dalam dunia ilmu membaca wajah dan bahasa tubuh atau gestur akan memberi arti khusus.
Banyak orang menganggap ekspresi terdakwa tidak menunjukkan dirinya pelaku sejak sidang pertama hingga kini. Terdakwa seakan tidak memberikan gestur penyesalan, takut, khawatir dan sebagainya, yang dalam dunia kriminologi dikenal sebagai GESTUR “TANPA GESTUR”.
Patut diketahui, mereka yang berpotensi melakukan pembunuhan, kerap menunjukkan perubahan perilaku sebelum melakukan aksinya. Mereka terkadang menunjukkan gestur-gestur tertentu sebelum membunuh. Misalnya: Scott Peterson yang membunuh istrinya yang hamil pada Desember 2002. Ssemenjak mengetahui istrinya hamil, sifatnya berubah. Ia diketahui tidak menyukai kehamilan isterinya.
Bahkan saat mereka sekeluarga rekreasi, Scott lebih asik dengan telpon selular berhubungan dengan pacar barunya daripada bergembira bersama mereka. Saat ia melaporkan kehilangan isterinya ke polisi, para kerabatnya menyatakan ybs tidak menunjukkan emosi apapun, tidak sedih, tidak panik, dan bahasa tubuh atau gestur lainnya yang menunjukkan ia khawatir tentang isterinya.
Selama penyelidikan kasus tersebut, ia tidak menunjukkan penyesalan, kehilangan, marah, sedih, kesal kenapa istrinya belum ditemukan, shock karena belum ditemukan istrinya, dsb. Ketika terbukti ia yang membunuh isterinya, pada 12 November 2004, di Redwood City, California, ia dituntut pembunuhan tingkat satu terhadap isterinya dan pembunuhan tingkat dua terhadap anak di kandungannya, Scott juga tidak memberikan ekspresi atau gestur apapun. Wajahnya tanpa ekspresi (tanpa gestur), datar, sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, gesturnya tidak menunjukkan protes.
Tetapi, for some offenders, deception is disclosed by a complete absence of gestures (Givens, 2008). Dengan demikian, tidak sedikit pelaku pembunuhan dapat menunjukkan gestur tanpa “gestur”.
Salah satu fakta menarik dari kejahatan pembunuhan adalah seperti penelitian yang pernah dilakukan Riedel dan Zahn (1985) terhadap data pembunuhan FBI periode 1980an, yang menemukan 3 jenis utama pembunuhan. Keluarga (pelaku dan korban memiliki hubungan keluarga), kenalan/ saling mengenal (pelaku dan korban tidak memiliki hubungan keluarga tetapi saling mengenal/ berteman) dan orang tidak dikenal (pelaku dan korban sama sekali tidak saling mengenal). Keduanya juga menyatakan dalam tipe pembunuhan dimana korban dan pelaku saling mengenal, baik memiliki hubungan keluarga maupun tidak, persentasenya antara 57 dan 62%. Hanya sekitar 13-14% pembunuhan terjadi dimana pelaku dan korban tidak saling mengenal (Beirne&Messerschmidt:1995, 107).
Kembali ke kasus tewasnya Mirna, Jessica yang diduga keras pelaku konon adalah sahabat Mirna. Mencermati uraian singkat yang telah dikemukakan diatas, pihak berwajib termasuk para kriminolog dengan pendekatan ilmu multidisipliner, patut mempertimbangkan fakta-fakta tersebut untuk mengungkapkan kasus tewasnya Mirna itu sendiri. Karena, tidak selamanya pelaku kejahatan menunjukkan gestur tertentu sebagaimana anggapan banyak pihak awam termasuk para penegak hukum selama ini.
Bahan Bacaan:
Criminology, Second Edition, Piers Beirne & James Messershmidt, Harcourt, Orlando: 1995.
Dangerous Personalities, An FBI Profiler Shows You How to Identify and Protect Yourself
from Harmful People, Joe Navarro, Rodale, NY:2014.
Givens, D. Crime Signals How to Spot a Criminal Before you Become a Victim, 2008.
No comments:
Post a Comment